BentukBentuk Gunung Api dan Ciri-Cirinya. 1). Gunung api Perisai/Prisma. Gunung api perisai berciri lerengnya agak landai berbentuk perisai. Gunung api ini hanya terdiri dari lapisan-lapisan lava saja, karena lava yang keluar dari gunung api hanya berupa lava yang cair sekali, sehingga dapat mengalir jauh menuruni lereng, kemudian mengalami
Ternyata38 kg emas yang dipajang di puncak tugu Monumen Nasional (Monas) Jakarta, 28 kg di antaranya adalah sumbangan dari salah seorang sa
MAUTBERNYANYI DI PAJAJARAN. DI BAWAH terik panasnya matahari di siang bolong itu maka bertiuplah angin kencang dan gersang. Debu pasir di pedataran beterbangan ke udara, memekat tebal, menutup pemandangan beberapa saat lamanya. Suara siulan aneh yang melengking-lengking membawakan lagu tak menentu terdengar di lereng bukit di ujung
GambaranWafatnya Pemimpin yang Hebat. Sebaimana banyak digambarkan dalam buku sejarah masa lalu bahwa Abdurrahman bin Hisyam, yang biasa dipanggil dengan sebutan 'Al-Ausath', termasuk dari pemimpin yang besar pada dinasti Umayyah Andalusia,. Ia adalah laki-laki yang cerdas, rajin, tekun, dan bertanggungjawab atas segala urusan yang dipimpinnya
Bentukkobaran api dari emas murni pada puncak monas menyimbolkan - 9370539 dita576 dita576 10.02.2017 Seni Sekolah Menengah Atas terjawab Bentuk kobaran api dari emas murni pada puncak monas menyimbolkan 1 Lihat jawaban Iklan
pFTnWF. Unduh PDF Unduh PDF Menggambar api terkadang sulit karena api tidak punya bentuk atau warna solid. Namun, ada beberapa trik yang bisa dipakai untuk mempermudahnya. Coba gambarkan satu api berkobar terlebih dahulu sehingga Anda terbiasa menggunakan bentuk dan warna api yang tepat. Kemudian, berlatihlah menggambar api yang lebih besar kalau sudah lebih mahir. 1Gambarkan bentuk tetes air dengan ujung bergelombang. Pertama-tama, gambarkan dasar melengkung bentuk tetes air. Lalu, gambarkan ujung yang muncul dari dasar. Lengkungkan garis yang mengarah naik sebanyak 1-2 kali secara bertahap, seperti gelombang sehingga gambar Anda tampak seperti kobaran api. Gelombang akan mulai di sekitar separuh atas bentuk tetes air. 2 Gambarkan bentuk tetes air kedua di dalam tetes pertama. Buatlah ukurannya sekitar setengah tetes air pertama, dan posisikan sehingga bagian dasarnya hampir menyentuh dasar tetes air pertama. Buat tetes air kedua melengkung layaknya tetes air pertama. Tetes air kedua akan memberikan dimensi pada api. Kemudian, Anda bisa mewarnainya ke bayang yang berbeda dengan tetes air pertama sehingga keduanya tampak membara dalam intensitas berbeda, layaknya api asli. 3Tambahkan bentuk tetes air ketiga di dalam tetes air kedua. Buatlah sekitar separuh ukuran tetes air kedua, dan berikan bentuk gelombang yang sama. Gambarkan dekat bagian bawah tetes air kedua sehingga kedua dasarnya hampir menyentuh. 4Warnai bentuk tetes air menggunakan warna merah, oranye, dan kuning. Warnai tetes air terkecil dengan kuning. Lalu, bubuhkan warna oranye pada tetes air kedua tengah. Terakhir, berikan warna merah pada tetes air terbesar. Anda bisa menggunakan pensil warna, spidol, atau pun krayon. Tahukah Anda? Warna api makin cerah ketika suhunya kian panas. Api kuning lebih panas dibandingkan api oranye, dan api oranye lebih panas dibandingkan api merah.[1] 5 Hapuskan semua gambar yang dibuat dengan pensil. Menghapus garis bentuk api akan membuatnya tampak lebih realistis. Jangan menekan penghapus terlalu keras supaya tidak mencoreng gambar. Setelah semua garis pensil dihapus, gambar Anda selesai! Tambahkan lilin dan sumbu pada api kalau mau! Cukup gambarkan silinder vertikal tipis di bawah dasar api untuk lilin, dan sambungkan bagian atas silinder ke api dengan garis vertikal untuk sumbu. Iklan 1 Gambarkan garis gelombang vertikal. Mulailah dari titik tempat dasar api akan berada. Kemudian, gambarkan garis gelombang vertikal yang mengarah ke atas. Berhentilah ketika garis sudah mencapai ⅓ tinggi api yang diinginkan. Berikan 2-3 gelombang pada garis.[2] Inilah awal salah satu ekor kobaran api Anda. 2 Buat ujung api dengan menggambar garis gelombang lain dari ujung gelombang pertama. Mulailah dari ujung atas garis gelombang yang baru dibuat, dan ikuti lekukan garis tersebut. Ketika garis makin menjauh dari titik awal, perlebar jarak antara keduanya sehingga Anda menciptakan garis bergelombang tebal. Berikan jarak pada titik tertebal sekitar ¼ panjang garis gelombang pertama. Berhentilah ketika Anda berada sekitar separuh dasar api. Buat garis gelombang kedua sekitar separuh panjang gelombang pertama.[3] Api Anda akan memiliki beberapa ekor ini, dan inilah yang akan membuat api tampak seperti berkobar dan membara. 3 Ulangi proses dan buat api makin tinggi secara bertahap. Pertama-tama, gambarkan garis gelombang vertikal menuju ke atas yang terhubung dengan titik pemberhentian terakhir Anda. Kemudian, gambarkan garis gelombang lain yang menurun dari ujung garis gelombang sebelumnya. Setelah itu, tarik kembali garis gelombang naik dari ujung garis terakhir untuk membuat ekor api baru. Teruskan sampai Anda mencapai titik tengah api yang diinginkan.[4] Oleh karena garis gelombang menurun dibuat separuh panjang garis gelombang menaik, api seharusnya makin tinggi setiap kali Anda menambahkan ekor baru. Seperti inilah tampilan api asli; biasanya, kobar api tertinggi berada di tengah dan yang terpendek berada di ujung. 4 Balik proses sebelumnya untuk menggambar sisi lain api. Setelah Anda mencapai titik tengah dan tertinggi api yang diinginkan, teruskan menggambar ekor bergelombang, tetapi buat garis gelombang menurun lebih panjang daripada yang naik. Gambarkan garis bergelombang menurun dari titik perhentian Anda sebelumnya. Buat panjangnya sama dengan garis gelombang yang sebelumnya dibuat. Kemudian, gambarkan garis gelombang naik yang panjangnya hanya setengah. Dengan demikian, ekor api akan tampak kian turun dan menurun. Teruskan menggambar ekor baru sampai mencapai dasar api.[5] Usahakan tinggi dan bentuk ekor api seragam sehingga tidak sepenuhnya mirip ekor-ekor di sisi seberang. Api akan tampak lebih realistis karena tidak simetris. 5Gambarkan garis bentuk kecil api di dalam api besar. Ikuti sepanjang lengkungan garis bentuk yang sebelumnya Anda gambar, dan sisihkan sedikit jarak antara kedua garis bentuk. Garis bentuk api kedua ini akan menambah dimensi gambar api Anda. Nantinya Anda juga bisa membubuhkan warna yang berbeda sehingga tampak berkobar dalam suhu yang berbeda.[6] 6Tambahkan garis bentuk yang lebih kecil lagi di dalam garis bentuk api kedua. Lakukan seperti sebelumnya dengan mengikuti lengkungan garis bentuk kedua. Sisihkan jarak antara api kedua dan ketiga Anda. Tambahan garis bentuk ini akan memberikan dimensi pada api dan memungkinkan Anda menambahkan warna ketiga.[7] 7Warnai api menggunakan warna merah, oranye, dan kuning. Pertama-tama, warnai garis bentuk api terkecil dengan kuning. Kemudian, warnai api kedua dengan oranye. Terakhir, warnai api terbesar dengan merah. Anda bisa mewarnai api menggunakan pensil warna, spidol, atau krayon. Tip Kalau Anda tidak memiliki warna-warna di atas, bayangi saja api dengan pensil. Isi api terbesar dengan bayang tergelap, api di tengah dengan bayang sedang, dan api terkecil dengan bayang tercerah. 8Hapuskan semua garis pensil di gambar. Setelah semua garis gelap pensil dihapuskan, gambar Anda akan tampak lebih realistis. Hapuskan dengan lembut sehingga tidak mencoreng warna yang dibubuhkan. Setelah semua garis pensil sudah hilang, gambar Anda selesai! Iklan Api juga bisa berwarna biru dan putih sehingga cobalah bereksperimen dengan warna-warna yang tersedia! Iklan Hal yang Anda Butuhkan Pensil Kertas Pensil warna, krayon, atau spidol Tentang wikiHow ini Halaman ini telah diakses sebanyak kali. Apakah artikel ini membantu Anda?
Bentuk kobaran api dari emas Murni pada puncak monas menyimbolkan semangat juang bangsa Indonesia yang tak pernah padam.
Jakarta - Terletak di jantung ibu kota Indonesia, di depan pusat kekuasaan negara, ternyata Tugu Monas masih menyimpan sejumlah misteri, terutama tentang penyumbang emas yang memoles jilatan api tugu. Tak ada dokumentasi siapa saja yang menyumbangkan emas di Monas. "Memang belum ada dokumentasinya," kata dosen sekaligus sejarawan Universitas Indonesia, Abbdurrahman, saat dikonfirmasi detikcom, Jumat 9/5/2014.Nama Teuku Markam yang disebut-sebut menyumbang emas itu memang bertebaran di internet, namun tak ada dokumentasi resmi atau buku-buku yang mencatat yang mengulas dan mengkonfirmasi benar atau tidaknya informasi itu. Abdurrahman sendiri mengakui informasi nama saudagar Aceh yang beredar itu belum bisa dikonfirmasi kebenarannya. "Bisa jadi personal, bisa jadi dari dana revolusi itu yang menyumbangkan emas di Monas. Di zaman Bung Karno memang ada dana revolusi," tutur mantan Ketua Program Studi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UI ini. Di era Bung Karno, imbuhnya, memang ada politik mercusuar yang membangun megaproyek atau landmark seperti Monas, kompleks Senayan, dan jembatan Semanggi. Untuk emas Monas, tak ada catatan yang bisa dikonfirmasi para sejarawan siapa yang menyumbangnya. Memang bertebaran nama saudagar Aceh yang menyumbang emas di Monas, namun tak satu pun ada bukti otentik yang bisa dibenarkan oleh sejarawan."Dari informasi-informasi selama ini kita tidak mendapatkan informasi seperti itu saudagar Aceh yang menyumbang emas. Memang tidak terbuka secara data. Kalau Aceh yang nyata-nyata menyumbang itu dua pesawat itu ya Seulawah pesawat RI pertama cikal bakal maskapai Garuda Indonesia, red. Kalau saja ada dokumen resmi," tuturnya. Mengapa data penyumbang itu tidak tercatat dalam dokumen resmi? Abdurrahman menduga salah satu penyebabnya saat pergantian rezim dari Soekarno ke Soeharto, ada de-Soekarno-isasi. "Pasca Soeharto naik ada de-Soekarno-isasi, begitu juga pasca Soeharto turun, ada de-Soeharto-isasi. Ya itulah poltik," mengakui para sejarawan memang masih meneliti dan mencari tahu mengenai emas Monas ini. Termasuk meneliti dokumen-dokumen di Arsip Nasional."Memang belum ada, kita kalau mengambil acuan dari situ Arsip Nasional. Kadang Kemenhan tidak memberikan ke Arsip Nasional, bisa masih dimuseumkan atau belum dikeluarkan, mungkin terkait kebijakan tertentu. Seharusnya kalau sudah 25 tahun lebih sudah boleh dibaca itu," tutur Abdurrahman. Sebelumnya, sejarawan LIPI Asvi Warman Adam juga mengatakan tidak mengetahui persis siapa pemberi sumbangan emas di puncak Monas ini. Asvi yang ditanya soal emas ini hanya bertutur, memang ada bantuan emas dari beberapa daerah di Indonesia saat pembangunan Monas. Namun siapa orangnya yang membantu, sejarawan LIPI ini tak tahu persis."Kalau soal bantuan emas itu kan memang ada. Tapi kan dibelikan untuk pesawat terbang," kata Asvi Marwan saat ditemui di Universitas Paramadina, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu 7/5/2014.Asvi tak merinci berapa jumlah pesawat yang dibeli Indonesia dari sumbangan emas itu. Namun, selain untuk emas di Monas, sumbangan emas juga digunakan untuk membeli pesawat."Ya emas yang untuk di Monas itu, itu memang untuk pesawat terbangnya ada itu. Sumbangannya ada juga dari Sumatera Barat, ada sumbangan itu. Setahu saya emas yang disumbangkan itu untuk pesawat terbang," paparnya asal muasal emas tersebut, Kepala Unit Pengelola Tugu Monas Rini Hariyani mengaku tak tahu sejarah pastinya. Konon, sebagian besar dari emas itu disumbangkan oleh salah satu putra daerah asal Aceh. Namun sang pengusaha mengalami perlakuan kurang baik ketika era Orde Baru."Pemberian saudagar dari Aceh. Tapi saya nggak tahu, enggak ada cerita sejarahnya dan nggak diberitakan kan dari mana asalnya dulu,” dokumen yang bisa dilansir dari situs Perpustakaan PU, 'Tugu Monas Laporan Pembangunan' yang diterbitkan 17 Agustus 1968, dituliskan lidah api di atas tugu Monas berbentuk kerucut setinggi 14 meter, dibuat dari perunggu seberat 14,5 ton yang terdiri dari 77 bagian yang disatukan, kemudian dilapis emas murni seberat lebih kurang 35 kg. Tidak disebutkan dari mana emas itu demi merayakan ulang tahun emas Repulik Indonesia pada 1995, pemerintah saat itu menambah jumlah emas agar genap 50 kilogram. nwk/nrl
JAKARTA, - Tugu Monumen Nasional Monas yang terletak di pusat Kota Jakarta dibangun oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, untuk mengenang perjuangan pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Di pucuk monumen setinggi 132 meter itu terdapat konstruksi lidah api yang dibalur emas sebagai lambang semangat bangsa Indonesia yang tak pernah Api Kemerdekaan Harian Kompas pada Juli 1996 menulis, lidah api di puncak obelisk Monas, yang kemudian disebut Lidah Api Kemerdekaan, merupakan pengejawantahan langsung dari gagasan Soekarno. Lidah api dianggap sebagai perwujudan kepribadian bangsa Indonesia ia dinamis, bergerak, dan berkobar. Baca juga Kado Ulang Tahun Ke-494 Jakarta, Lonjakan Covid-19 hingga RS Terancam Kolaps Saat pertama kali dibuat, Lidah Api Kemerdekaan dilapisi emas seberat 35 kilogram, seperti dilansir situs majalah anak-anak Bobo. Namun, pada tahun 1995 ketika Indonesia merayakan hari jadinya yang ke-50, lapisan emasnya ditambah menjadi seberat 50 kilogram. Sebagian besar dari emas pelapis lidah api tersebut disumbangkan oleh saudagar kaya dari Nanggroe Aceh Darussalam, Teuku Markam. Sosok Teuku Markam Catatan Teuku Markam merupakan pria kelahiran Panton Labu, Aceh Utara, di tahun 1925. Ia dikenal sebagai pengusaha yang dekat dengan juga Gubernur DKI Jakarta dan Kontroversinya Riwayat Penggusuran pada Era Gubernur Wiyogo, Jokowi, dan Ahok Sebelum banting setir menjadi saudagar, Teuku Markam pernah berdinas di militer. Dalam perjalanannya sebagai pengusaha kaya raya di awal kelahiran Republik Indonesia, Teuku Markam banyak terlibat dalam proyek pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa. Dia mendirikan perusahaan perdagangan bernama PT Karkam. Namun karena kedetakannya dengan Soekarno, nasib Teuku Markam berubah drastis di era rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto. Dirinya pernah dijebloskan ke dalam penjara pada tahun 1966 karena dituding sebagai bagian dari Partai Komunis Indonesia PKI. Baca juga Kontroversi Pajak Judi Ali Sadikin dan Manfaatnya bagi Pembangunan Kota Perusahaannya diambil alih pemerintah dan menjadi cikal bakal BUMN bernama PT Berdikari Persero. Tahun 1966, dirinya pernah dipenjara oleh Orde Baru tanpa proses pengadilan. Perusahaannya, Markam kemudian diambil alih pemerintah dan menjadi cikal bakal BUMN bernama PT Berdikari Persero. Penulis Muhammad Idris, Vitorio Mantalean Editor Muhammad Idris, Sabrina Asril Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Fakta Unik Monas – Monumen Nasional, atau yang lebih dikenal dengan nama Monas merupakan salah satu landmark kebanggaan dari kota Jakarta dan Indonesia. Mulai dibangun pada 17 Agustus 1961 dan dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975, Monas tak hanya menyimpan sejarah panjang namun juga berbagai fakta unik dan menarik. Yuk, kenali lebih dalam monumen kebanggaan masyarakat Jakarta dan Indonesia ini dengan mengintip fakta-fakta menarik seputar Monas yang masih jarang diketahui orang-orang Baca juga 9 Destinasi Wisata Alam Terbaik di Jakarta Fakta Unik & Menarik Monas 1. Makna dan Filosofi dari Desain Monas Memiliki bentuk yang sangat ikonik, ternyata desain dari Monumen Nasional ini memiliki arti yang makna filosofis yang mendalam, lho! Tiang menara monas merupakan perlambang dari “Lingga”, lambang laki-laki yang bermakna keseburuan. Sedangkan landasan pada bagian bawahnya merupakan “Yoni, lambang perempuan yang bermakna lembut dan feminin. Selain itu, kedua formasi inipun memiliki makna lain yakni alu dan lesung, perlengkapan untuk menumbuk padi, sebuah gagasan desain yang diutarakan langsung oleh Ir. Soekarno, presiden pertama Republiuk Indonesia. Ukuran-ukuran pada Monas juga sarat akan makna kemerdekaan Republik Indonesia. Tinggi pelataran cawan setinggi 17 meter melambangkan tanggal 17, tentang tinggi antara ruang museum pada bagian bawah ke dasar cawan setinggi 8 meter melambangkan bulan Agustus, dan luas pelataran berukuran 45 x 45 meter yang melambangkan tahun 1945, tanggal merdekanya Republik Indonesia. 2. Sayembara Panjang untuk Menemukan Desain Monas Desain Monas yang sarat akan makna ini tak muncul begitu saja, lho. Untuk bisa menemukan arsitek yang pas untuk merancang Tugu Monas, Ir. Soekarno kala ini membuka sayembara. Sayembara yang yang dibuka selama setahun dimulai pada 17 Februari 1955 ini diikuti oleh 51 peserta, baik kolektif maupun individu. Melalui sayembara tersebut, terpilihlah F. Silaban sebagai peserta terbaik yang juga merupakan arsitek yang merancang Masjid Raya Istiqlal. Namun kala itu ia tak mampu memenuhi persyaratan pembentukan tugu. Akhirnya dilakukanlah sayembara ulang dengan susunan juri dan dimulai pada 10 Mei 1960. Kala itu panitia sayembara menginginkan desain yang mencerminkan kepribadian dari Indonesia yang mampu membangkitkan semangat patriotik, tiga dimensi, tidak rata, menjulang tinggi, bermaterialkan beton, besi, dan pualan, serta mampu bertahan hingga tahun lamanya. Sayembara ulang ini berhasil mengumpulkan 222 peserta dengan 136 karya rancangan. Namun, dari setiap rancangan tersebut masih belum ditemukan karya yang sesuai dengan kriteria dan visi dari tim panitia. Hingga Presiden Ir. Soekarno menunjuk arsitek Soedarsono dan F. Silaban untuk membuat rancangan Tugu Nasional yang akhirnya disetujui pada tahun 1961. Sumber gambar Kompas 3. Sumber Emas pada Puncak Monas Salah satu yang terkenal dari Monas adalah keberadaan emas pada puncaknya. Namun, berapa sebenarnya berat dari emas tersebut dan darimana asal emas pada puncak Tugu Monas? Pada awalnya, puncak tugu Monas memiliki 32 kilogram emas. Belum ada sumber pasti yang bisa memastikan dari mana asal 32 kilogram emas tersebut karena banyak daerah yang menyumbangkan emas pada saat pembangunan Monas. Salah satu kisah yang dipercaya masyarakat adalah sosok Teuku Markan, seorang saudagar dari Aceh yang menyumbangkan 28 kilogram emas. Namun, tidak ada bukti sejarah yang bisa membenarkan kisah ini. Pada tahun 1995, Indonesia merayakan ulang tahun emas yakni 50 tahun kemerdekaan. Pada saat ini ditambahkanlah emas pada puncak monas menjadi 50 kilogram. Lidah api keemasan pada puncak Monas ini sendiri melambangkan semangat dari perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah untuk merebut kemerdekaan. Baca juga 10 Masjid Tertua dan Paling Bersejarah di Indonesia 4. Pergantian Nama Monas Meskipun kini terkenal akan nama Monumen Nasional atau Tugu Monas, namun pada awalnya nama dari monumen ini bukanlah Monuman Nasional, lho. Berbagai bama dan julukan pernah diberikan pada monumen yang berlokasi di depan istana kepresiden tersebut. Mulai dari Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, hingga Taman Monas. Namun, seiring berjalannya waktu masyarakat kini lebih banyak menyebutnya sebagai Monas sebagai bentuk singkatan Monumen Nasional. 5. Daya Tarik Monas Selain sebagai monumen dan landmark, Monas ternyata menyimpan banyak daya tarik. Apa saja yang bisa Toppers temukan saat berkunjung ke Monas? Salah satu yang paling banyak dicari wisatawan adalah pengalaman mengamati kota Jakarta dari ketinggian puncak Monas. Namun, selain itu, pada bagian bawah monas juga terdapat Museum Sejarah Nasional yang menyimpan diorama lengkap perjalanan Nusantara dari zaman kerajaan, kolonialisasi, perjuangan revolusi hingga masa kemerdekaan. Kawasan sekitar dari Monas juga dipenuhi taman-taman asri dan juga berbagai patung sosok bersejarah di Indonesia. Kawasan Monas juga dilengkapi berbagai fasilitas olahraga dan juga pusat kuliner. Sumber gambar Detik 6. Patung-Patung Bersejarah di Monas Seperti yang telah disebutkan pada poin sebelumnya, di kawasan Monas terdapat patung-patung sosok bersejarah di Indonesia. Tepatnya, terdapat 5 buah patung yang bisa Toppers temukan di kawasan Monas. Patung tersebut adalah Patung Pangeran Diponegoro yang dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai bentuk sumbangan dari Konsul Jenderal Kehormatan, Dr. Mario, di Indonesia. Selain itu terdapat pula Patung Chairil Anwar, penyair terkenal Indonesia, Patung Mohammad Husni Thamrin, pahlawan nasional berdarah Betawi, Patung Raden Ajeng Kartini, perjuang emansipasi wanita, dan juga patung Ikada yang merupakan perlambang dari keberanian pemuda Indonesia. 7. Penolakan terhadap Monas Meskipun kini menjadi kebanggaan dari masyarakat Indonesia, ternyata pada awalnya gagasan untuk membangun Monas banyak mendapatkan penolakan khususnya dari kalangan pemuda dan mahasiswa. Pada saat itu, banyak yang memandang bahwa pembangunan Monas bersama berbagai proyek monumental lainnya tersebut merupakan pemborosan yang tak diperlukan dikarenakan usia Republik Indonesia kala itu masih sangatlah muda. Baca juga 7 Taman Kota di Jakarta untuk Mengisi Akhir Pekan Itulah berbagai fakta-fakta menarik di balik kemegahan Monumen Nasional alias Monas. Dibalik keunikan dan berbagai daya tariknya, Monas menyimpan sejarah panjang perjalanan Republik Indonesia serta perlambang dari nilai-nilai filosofis yang dalam. Makin penasaran terhadap Monas? Yuk, kunjungi langsung landmark dari Jakarta satu ini!
bentuk kobaran api dari emas murni pada puncak monas menyimbolkan